Senin, 04 September 2017

Tiga (3) Golongan Manusia Secara Syar'i

Secara Syar'i Manusia itu di bagi menjadi 3 golongan;

1. Ulama/ahli ilmu
2. Penuntut Ilmu
3. Awam.

Awam berasal dari bahasa Arab artinya umum. Ini berasal dari buku Ustadz Abu Hafshah yang ane baca,
Disitu di jelaskan bahwa Awam secara Syar'i adalah mereka yang tidak baik agamanya.

Dan tentu disini Ilmu yang di bahas ialah Ilmu syar'i. jadi sekalipun dia bergelar doktor bahkan pejabat negara sekalipun jika tidak mengetahui Ilmu syar'i tetap berada dalam golongan "Awam". Maaf sekali lagi itu saya ambil dari bukunya Ust. Abu Hafshah ya. Hehe

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata :

"Seorang awam ahli tauhid mengalahkan 1.000 tokoh kaum kafir". 

Mengalahkan secara maknawi maupun secara fisik demikian itu karena Ahli tauhid adalah ahli Allah. Bisa cek dalilnya Qs an-Nahl ayat 43.

Sebagian ulama mengatakan ayat ini Allah hanya menyebutkan dua golongan yaitu, Ulama dan penuntut Ilmu. Dan tidak ada golongan ketiga.

Oleh karena itu, janganlah menjadi golongan yg ketiga, karena dia tidak berilmu dan tidak bertanya pada Ahli ilmu alias tidak mau mengurusi masalah agama.

Menanggapi gambar di bawah ini, termasuk yang manakah kita dalam menuntut ilmu agama?
Otodidak atau berguru ?

Alangkah baiknya kita berguru sob, datangi majelis-majelis ilmu jika tidak ada udzur.

Bukankah imam Malik pernah berkata bahwa ilmu itu di datangi, bukan mendatangi ?
Wallahu a'lam bishawab.


 
*Sponsor nya:

Jadwal Ta'lim Ahlus Sunnah Sampit
Kajian Ba'da Magrib:

1. Sabtu/ Mlm Ahad
Pemateri: Ustadz Hamzah As Sindy
Kitab: Syarah Mandzumah al Haaiyah (Tauhid)


2. Ahad/ Mlm Senin
Pemateri: Ustadz Malik Ashari
Kitab: Syarah Hisnul Muslim
*Ba'da Isya
Pemateri: Ustadz Malik Ashari
Kitab: Durusul Lughah (B. Arab)


3. Senin/ Mlm Selasa
Pemateri: Ustadz Malik Ashari
Kitab: Syarah Nawaqidul Islam (Tauhid)


4. Selasa/ Mlm Rabu
Pemateri: Ustadz Hamzah As Sindy
Kitab: Nuzhatul Muttaqin (Syarah Riyadhushsholihin/Hadits)


5. Rabu/ Mlm Kamis
Pemateri: Ustadz Malik Ashari
Kitab: Syarah Umdatul Ahkam (Fiqh)


6. Jum'at/ Mlm Sabtu
Pemateri: Ustadz Hamzah As Sindy
Kitab: -


Kajian Ummahat/Akwat:
Tiap Hari Sabtu Jam 4 Sore, di Mushalla Nurusy Syuhada Jl. S. Parman (Samping RM. Firmanuddin)

NB: Untuk Tempat, Sementara kita fokuskan di S. Parman dulu & Jadwal Sewaktu-waktu Bisa Berubah.

Info:
1. Abu Muhammad (Mang I'in)
0813 4802 0000
2. Abu Junaid (Mahfud)
0822 8154 9083

Sabtu, 02 September 2017

Tahukah Kalian Siapa Orang Yang Bangkrut Pada Hari Kiamat ?

Beberapa waktu lalu saya menuliskan sebuah status di Facebook sebagai berikut ;

TAHUKAH KALIAN SIAPA ORANG YANG BANGKRUT PADA HARI KIAMAT ?

#MUHASABAH

Sebenarnya status ini di tujukan kepada sebagian kalangan yang seringkali nge-share postingan dengan niatan Ghibah yang berujung caci maki. Saya tidak akan tuliskan siapa saja diantara mereka yang kerap posting hal yang beginian, tapi hanya saja agak bingung, untuk apa mereka lakukan ?

Baru baru ini terjadi lagi sebuah benturan di medan dakwah. ya, jika kalian aktif bersosial media maka tidak heran lagi tiap hari selalu saja ada hal yang baru di media sosial.

Sebagai contoh aksi Demonstrasi yang beberapa waktu lalu terjadi pada Masjid Imam Ahmad Bin Hanbal, di kota bogor. Masjid yang umum di ketahui bahwa pembinanya adalah seorang yang sepuh, yaitu Ustadz Yazid Bin Abdul Qodir Jawaz Hafizhahullah ini, baru saja mengalami pembekuan IMB-nya oleh pemerintah daerah setempat. Hal ini terjadi atas desakan sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam pula.

Lalu kita lewatkan berita di atas, kemudian ada lagi potongan video yang entah siapa yang pertama  kali menyebarkannya. yaitu Sebuah statemen oleh Ustadz Subhan Bawazier mengenai cara pemakaian Sorban oleh beberapa tokoh Islam yang "tidak Islami". Padahal point nya jelas, yang beliau komentari adalah Gambaran Sejarah yang dikaburkan. Seperti halnya Cut nyak Dien berjuang tanpa mengenakan Hijab.

Beberapa hal di atas hanyalah sebagai contoh  bahwa isu dunia maya makin hot. Soalnya ada beberapa orang yang memang saya kira dia ini "Hasad" sekali terhadap Dakwah Sunnah. Karena  tiap kali ada masalah terus terusan di buat viral dengan berbagai macam postingan yang menyudutkan. Saya bingung, orang ini maunya Apa ?

Dia merasa seolah olah dia tidak cacat sedikitpun, tidak juga merasa pernah melakukan kesalahan. Allahul musta'an.

Mereka yang kerap mengghibahi seorang muslim tetapi mereka merasa sudah melakukan hal yang ma'ruf adalah sebuah kebodohan. Maka dari itu penting kiranya kita mempelajari bagaimana sih bersosmed dengan cara yang syar'i ? atau setidaknya kita belajar menahan tangan yang mewakili lisan kita ini di media sosial.

Komentar kita, Postingan kita semuanya akan di pertanggung jawabkan di akhirat kelak. Karena bisa jadi, akibat itu semua kita menjadi orang yang "Muflis", yaitu Orang yang bangkrut di akhirat. Orang yang Pada hari kiamat datang dengan membawa pahala Sholat, pahala Puasa, pahala Infaq, Zakat dan Shodaqoh, dan pahala ibadah ibadah lainnya. Tetapi dia berdosa mencela orang, mengghibahi orang, menyakiti orang, makan uang orang, kemudian pahala nya di ambil oleh orang yang di Dzolimi nya tadi, habis tanpa tersisa.

Simak baik baik sebuah Video Kajian oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc yang berjudul - Adab dan Hukum Media Sosial, pada link di bawah ini :

https://www.youtube.com/watch?v=Ls1S49iLvjE

Mudah-mudahan kita terindar dari hal tersebut (Muflis). Aamiin.




Sabtu, 26 Agustus 2017

Seorang Da’i Tidak Harus Bertitel Tinggi

SEORANG DA’I TIDAK HARUS BERTITEL TINGGI 

Para ulama berpendapat bahwa hukum dakwah adalah wajib bagi setiap muslim sesuai dengan kemampuannya. Namun, ketika kita ingin melaksanakan kewajiban tersebut timbul rasa was-was karena kita merasa belum cukup ilmu. Apalagi tidak sedikit orang yang melemahkan tekad kita seraya mengatakan, “kamu belum pantas berdakwah karena kamu tidak punya gelar...”. “Ust. Fulan lulusan mana sih..?”, “Mau dakwah? Emang sudah hafal seluruh al Qur’an?”, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menajatuhkan mental sang da’i. 

Tahukah Anda..?? Da’i tidak harus memiliki tingkat ilmu yang tinggi..!! 

Memang betul, semakin tinggi pendidikan sang da’i, semakin baik dan utama. Namun, bukan berarti orang yang pendidikannya rendah lantas tidak punya kesempatan untuk berdakwah. Ia tetap memiliki kewajiban berdakwah sesuai dengan ilmu yang dia miliki. Asal yang didakwahkan adalah ilmu yang benar. 

Syaik Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin pernah ditanya terkait masalah di atas: 

Pertanyaan:
Apakah berdakwah itu wajib atas setiap Muslim dan Muslimah, atau hanya wajib atas para ulama dan para thalib ‘ilm (para penuntut ilmu syar’i)? 
 
Jawaban:
Jika seorang mengetahui betul dan mengetahui permasalahan dengan yakin (mantap) apa yang didakwahkan, maka tidak ada bedanya, apakah ia seorang ulama besar yang diakui kredibilitas dan kapabilitasnya atau seorang thalib ilm yang serius atau hanya seorang awam, karena Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam telah bersabda:
 
  بَÙ„ِّغُ عَÙ†ِّÙŠ ÙˆَÙ„َÙˆ آيَØ©ً 
 “Sampaikanlah apa yang berasal dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR. Bukhari).
 
Tidak disyaratkan bagi seorang juru dakwah untuk mencapai tingkat tinggi dalam segi keilmuan, tapi disyaratkan menguasai topik yang diserukannya. Adapun melaksanakannya tanpa ilmu, atau hanya berdasarkan kecenderungan, maka itu tidak boleh. (kutipan fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin, Kitabud Da’wah (5), (2/158-159)). 
 
 
 
 
 
Edisi Indonesia: Fatwa-fatwa Terkini (2)

MUI Kota Bogor Beberkan Agenda Terselubung Dibalik Ajakan Demo Tolak Wahabi

MUI Kota Bogor menanggapi rencana aksi sejumlah pihak yang mengajak aksi turun ke jalan menolak Wahabi terkait pembangunan Masjid Ahmad bin Hanbal di Bogor Utara.
Meski selebaran yang beredar di masyarakat menyebut “Aksi Damai Bogor Utara Tolak Wahabi” namun demo itu dianggap bakal memperkeruh suasana.

“Himbauan saya, umat Islam jangan masuk perangkap provokasi perpecahbelahan tersebut,” ujar Ketua Komisi IV MUI Kota Bogor, Ustadz Wardhani kepada Pojokjabar, Jumat (25/8/2017).

Menurutnya isu Wahabi sengaja dihembuskan untuk menghancurkan persatuan warga di Kota Bogor yang selama ini berusaha menjaga kerukunan antar umat beragama.

“Isu wahabi adalah bagian dari permainan musuh Islam untuk mengadu domba umat Islam dan melemahkan persatuan dan kesatuan,” ujarnya.

Lebih lanjut Wardhani menghimbau mereka yang akan berdemo sebaiknya mengurungkan niatnya. Pasalnya MUI menilai akan ada provokator yang bermain di balik isu penolakan pembangunan Masjid Ahmad bin Hanbal ini.

Ini permainan provokator untuk pengalihan isu terhadap agenda yang sedang mereka gulirkan,” jelasnya.
Seperti diketahui di kota Bogor memang ada beberapa isu keagamaan yang sempat membuat gaduh.

Di antara isu yang menjadi agenda terselubung untuk dimunculkan kembali itu yakni tuntutan dihidupkannya kembali GKI Yasmin, tidak boleh diganggunya Rumah Sakit Siloam di bekas Gedung Internusa, dan rencana pendirian tower dan rumah sakit di lokasi LAI di Jl. Ahmad Yani.

“Yang harus diwaspadai adalah bangkitnya komunis, misionaris pemurtadan terselubung dan menyebarnya aliran menyimpang syiah dan yang lainnya,” pungkasnya.

Sebelumnya Humas Polresta Bogor, Rahmat membenarkan adanya selebaran dan aksi yang akan dilaksanakan tersebut. Menurutnya itu bukanlah berita hoax.

“Itu bukan hoax. Memang benar dan sudah di acc,” katanya.

Sementara itu, Kabag Ops Polres Kota Bogor, Kompol Fajar Hari Kuncoro berharap aksi yang dilakukan tertib dan tidak anarkis. Sehingga tidak mengganggu ketertiban dan kenyamanan orang lain.





Sumber : Pojok Jabar

Jumat, 25 Agustus 2017

PERANG BADAR: Tatkala yang Lemah Memenangkan Pertempuran (Pdf)

Sejarah Islam memiliki cerita pertempuran yang hebat dan kemenangan perdana yang memesona atas musuh mereka. Sejarah tak terbantahkan yang paling terkenal dari pertempuran ini adalah Perang Badar, yang berlangsung di sebuah oasis barat daya Madinah pada tahun 2 H atau 624 M.

Pada tahun 622 M, Nabi Muhammad beserta sekitar seratus orang pengikutnya pergi meninggalkan Mekah untuk menghindarkan diri dari gangguan dan penyiksaan Musyrik Quraisy. Mereka menuju Yatsrib yang terletak di utara Mekah. Akan tetapi, hal itu tidak membuat Musyrik Quraisy berdiam diri. Harta orang-orang Muslim yang masih berada di Mekah mereka rampas, bahkan Musyrik Quraisy gencar melakukan ancaman dan rencana penyerangan. Dalam kondisi seperti inilah, Allah mengizinkan orang-orang Muslim berperang untuk mempertahankan diri dari musuh-musuh yang mengancam mereka. 

Setelah turunnya izin berperang, tidak serta merta Nabi Muhammad mengadakan peperangan terhadap Musyrik Quraisy yang saat itu masih sangat kuat. Langkah pertama yang Nabi Muhammad lakukan adalah menguasai jalur perdagangan Musyrik Quraisy antara Mekah dan Syam (mengganggu perekonomian Quraisy). 

Perang Badar terjadi karena Nabi Muhammad mengetahui kabar adanya kafilah dagang Quraisy yang akan kembali dari Syam. Sebagaimana tradisi Quraisy sebelumnya pada setiap musim gugur, di tahun 623 M (2 H) kafilah dagang tahunan Quraisy berangkat dari Mekah menuju Syam. Rute yang biasa ditempuh yaitu sepanjang pantai Laut Merah melintasi sekitar 80 mil timur Madinah. Kafilah dagang musim gugur 624 tersebut terdiri dari seribu ekor unta yang sarat dengan barang-barang perdagangan yang mahal. Diperkirakan nilai kafilah dagang tersebut mencapai 50.000 dinar (sekitar 105 Milyar rupiah). Kafilah tersebut berada di bawah komando Abu Sufyan bin Harb, seorang pedagang penting yang merupakan salah satu pemimpin oposisi terhadap Nabi Muhammad dan seorang perwira militer berpengalaman yang memimpin kavaleri Mekah. Karavan itu diiringi penjaga empat puluh orang. 

Nabi Muhammad pun dengan cermat merencanakan operasi ini agar meraih keberhasilan. Untuk itu, beliau mengutus tim pengintai dan intelijen guna mengumpulkan informasi yang diperlukan. Selanjutnya, beliau pun memerintahkan para sahabat—yang jumlahnya sekitar sekitar tiga ratusan personil—untuk berangkat. 

Abu Sufyan sebagai seorang yang berpengalaman mengambil sikap waspada. Saat mendekati daerah Hijaz, Abu Sufyan mengirim seorang pengintai ke depan untuk mengintip rute di depan dan untuk mengetahui aktivitas pasukan Islam. Tatkala mengetahui adanya gerakan pasukan Islam, ia pun memutuskan berbelok melewati rute tepi pantai, selain juga ia memutuskan untuk mengirim seorang pengendara unta untuk memberikan peringatan dan meminta agar orang-orang Mekah memobilisasi pasukan besar untuk mencegah serangan Nabi Muhammad. 

Berita yang diterima oleh Musyrik Quraisy ibarat petir yang menyambar mereka. Oleh sebab itu, pasukan Quraisy segera bergerak dan berusaha mengerahkan segala kemampuan mereka. Dari sana, terhimpunlah sekitar seribu personil. Hampir semua pemuka terlibat dalam pasukan tersebut. 

Saat tiba di lembah Zufran, pasukan Islam mendengar bahwa kafilah Abu Sufyan berhasil lolos dari kejaran, sementara pasukan Quraisy telah bersiap berperang. Di sinilah keimanan pasukan Islam diuji dan ketaatan mereka kepada Nabi Muhammad dinilai. Menghadapi hal itu,  beliau pun melakukan musyawarah dengan para sahabatnya dari golongan Muhajirin dan terkhusus dari kalangan Anshar. Keputusan bulat mereka yakni menghadapi pasukan Musyrik Quraisy.

Tempat pertempuran tersebut yaitu Badar. Pada pagi 17 Ramadhan, Nabi Muhammad mengatur pasukannya sebagaimana barisan perang. Ini merupakan siasat baru dalam peperangan yang bertentangan dengan kebiasaan orang-orang Arab. Sementara pasukan Musyrik Quraisy masih menerapkan formasi konvensional.

Peperangan diawali dengan dual satu lawan satu. Di pihak Musyrik Quraisy, majulah Utbah bin Rabiah, Walid dan Syaibah. Sementara dari pasukan Islam tampillah Hamzah, Ali dan Ubaidah bin Harits. Hasilnya, pihak Islam berhasil mengalahkan musuh mereka. Setelah itu, terjadilah pertempuran jarak dekat antara kedua pasukan. 

Dengan izin dan pertolongan Allah, perang pada akhirnya dimenangkan oleh pasukan Islam. Pasukan Musyrik Quraisy banyak menderita kerugian. Tujuh puluh orang di antara mereka terbunuh dan tujuh puluhan lagi tertawan, yang kebanyakan mereka justru terdiri dari para pemuka dan pemimpin mereka. Sementara korban dari pihak Islam berjumlah empat belas orang, yang terdiiri dari enam orang kaum Muhajirin dan delapan orang dari kaum Anshar. 

Penduduk Mekah sangat shock mendengar berita kekalahan tersebut. Hal itu menimbulkan efek buruk terhadap kondisi mereka. Bahkan mereka melarang orang-orang yang keluarganya terbunuh di Badar untuk meratapi mereka. Sementara penduduk Madinah langsung mengekspresikan kemenangan pasukan Islam dengan melantunkan takbir dan tahlil di mana-mana, sehingga bergemalah di Madinah suara takbir dan tahlil.  Kemenangan pasukan Islam di Badar merupakan kemenangan politik strategis yang pertama dan terutama bagi umat Islam. Apalagi tidak lama berselang dari kemenangan tersebut, hadirlah momen paling mengesankan yaitu Idul Fitri pertama yang dijalani umat Islam pada tahun 624 M, yang bertepatan setelah mereka memperoleh kemenangan yang gemilang dalam perang Badar. 

Spirit utama Perang Badar adalah keberhasilan kelompok yang lemah mengalahkan kelompok yang kuat dan perkasa melalui nikmat atau keputusan ilahi. Sejarah tentang Perang Badar sangat mirip dengan kisah salah seorang nabi Bani Israil, Daud, yang berhasil mengalahkan Jalut. Perang Badar menegaskan bahwa kekuatan keilahian lebih besar daripada kekuatan duniawi manapun, yang disampaikan melalui kisah kemenangan yang menakjubkan. Orang-orang beriman yang berperang demi Tuhan, terlepas dari siapa pun musuh yang melawan mereka, dapat mengalahkan orang-orang yang berperang untuk tujuan lain, baik itu demi tujuan: bangsa, ras, kepercayaan yang keliru, harta rampasan, atau penaklukan yang brutal. Perang Badar juga secara fundamental mengubah sifat identitas komunal di kalangan umat Islam. (A. Sadikin).

Sumber : Syamina.org


Sekilas Mengenal Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Syaikh Hasan Al-Banna bersama keenam tokoh lainnya, yaitu Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi di kota Ismailliyah, Mesir pada tahun 1928. Slogan dan tujuan pergerakannya adalah  mengembalikan khilafah Islamiyah. Program dan metode  pergerakannya diringkas oleh Hasan Al-Banna dalam ucapan  dan semboya

“Allah tujuan kami, Rasul teladan kami, Al-Qur’an pedoman kami, jihad jalan kami, mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami."

Dalam perkembangannya, IM begitu cepat merambah ke hampir semua pelosok kota dan desa serta menjadi kelompok terbesar di negara tersebut dan sekitarnya. Dalam waktu singkat, IM juga menyebar di negeri Syam. Sejumlah jam’iyyah dan harakah (pergerakan) Islam bergabung dengan IM. Mereka juga mampu merekrut para kader dan tokoh sehingga organisasi ini berkembang pesat dengan basis massa mencapai puluhan ribu orang.

Dari sini, IM menyebar luas ke berbagai negeri Arab dan Islam lainnya sehingga muncul berbagai kelompok, baik dengan nama yang sama maupun memakai nama lokal. Mereka semua bergerak dari dasar yang satu dan berdiri di atas fondasi yang sama.

Seiring perjalanan waktu, IM memiliki banyak ulama, karya tulis, dan koleksi buku. Mereka bersandar pada manhaj yang spesifik, yang terus berkembang sejalan dengan waktu. Mereka juga melakukan tarbiyah (kaderisasi) dan berdakwah berdasarkan manhaj tersebut.

Seperti yang telah dibahas di awal bahwa IM adalah organisasi induk (al-jama’ah al-umm) bagi mayoritas al-harakah alushuliyyah as-siyasiyyah (gerakan fundamentalisme politik) bahkan bagi banyak kelompok jihadi di negeri-negeri Arab dan Islam. IM telah melahirkan berbagai pergerakan dengan nama lain. Berbagai organisasi kepemudaan pun mengusung pemikiran mereka dan menamakan diri dengan nama-nama lokal. Meski demikian, semua kelompok itu lahir dari jubah yang sama.  (KN)




Orang Indonesia Itu WAHABI KABEHHH...

Beberapa waktu lalu saya membuat status pada akun facebook pribadi dengan tulisan seperti dibawah ini :

Dalil bahwasanya Org indonesia ini semuanya Wahabi adalah ketika mereka di timpa musibah, mereka (kita) sepakat bicara begini :

"SABAR, KITA SERAHKAN SAJA SEMUA MASALAH KEPADA YG DI ATAS".
Tidak pernah saya dengar seperti "Kita serahkan saja masalah ini dgn yg ada dimana mana" atau "Kita serahkan Saja masalah ini dgn yg tidak di atas dan tidak pula dibawah". (emoticon ketawa)

Sontak menuai komentar yang kadang, gak jelas, dan sedikit serius, Seperti :

Edi Septriyanto Di atas, tapi bukan di atas 'Arsy (takwil dulu ah... *emotketawa*)

Abu Hamzah Ad-Dayaky Fitrohnya sebagai hamba Allah mengakui keberadaan Allah.. Namun hawa nafsunya yang membuat ia condong menyelisihi dari fitrohnya..
 
Muhammad Bilal Al Sidiq nyimak aja klu Ada yg mngatakn Allah subhaanahu wa ta'ala ada dmn mn
 
Zannoe Alfiannur "SABAR, Serahkan saja semua masalah kepada PIHAK YANG BERWAJIB". Dalil yg sering muncul ketika ad masalah d tengah jalan 
 
Kidramawan Jangiru Skakmat, pade nginyem dah. 
 
Sumirlan Trisno Karna tinggi sdh pasti di atas
 
Irda Deswanto Tawaran Informasi : Om Roy Anwar  
 
Begitulah akun facebook saya yang selalu ramai pembahasan mengenai Ilmu dan fitnah. Memang ada dua kubu yang selalu gontok gontokan di dunia maya bahkan-pun di dunia nyata mengenai keberadaan Allah itu ada dimana. Yaitu, Asy'ariyah dan Wahabi (Ahlus sunnah Wal Jama'ah). 
 
Untuk masalah ini sudah tentu Pijakan seorang muslim adalah Al-Quran dan Sunnah, yang mana banyak sekali nash dari Al-Quran menyatakan Allah Bersemayam di Arsy, begitu pula Al Hadist. 
 
Wallahu A'lam.