Minggu, 08 Maret 2015

Untuk Pertemanan Bag. 2

Kemarin, belum sampai seminggu yang lalu. saya di kabari abdi bahwa dia telah memeriksakan kesehatannya kepada seseorang. yah oke kataku, jadi bagaimana ?. katanya, dia mengalami sakit ginjal, paru-paru, reumatik, dan juga matanya di vonis oleh orang yang memeriksa kesehatannya itu sudah minus. dia mengabariku lewat BBM, kami sering ngobrol via BBM akhir akhir ini. bahkan kami sering bertukar pikiran lewat sosial media ber-quota sialan ini. mungkin kecilnya kesempatan kami untuk bertemu adalah hal yang paling klasik yang saat ini menjadi momok perkawanan kami beberapa tahun ini.

Jadi, aku bertanya kepadanya dengan siapa mereka (firly, dan abdi) memeriksakan kesehatan sehingga sekurang kurang ajarnya dokter spesialis-pun tidak pernah mem vonis pasiennya tanpa ada pemeriksaan yang super teliti. lain lagi komentar mieke mengenai pemeriksaaan ginjal dan paru – paru ini memang harus di rontgen oleh si pemeriksa kesehatan itu tanpa ada terkecuali. dan tentu seperti biasa abdi cuma diam tanpa menjelaskan tetek bengek bualannya di BBM pada malam itu, sampai pada akhirnya rasa penasaran kepada si bangsat macam apa yang dengan lancang membatasi umur seseorang dengan klaim penyakit penyakit yang kami tau pada dasarnya setiap tubuh manusia beresiko terkena berbagai macam penyakit ini.

Malam selanjutnya setelah saya bersetuju membiarkan diri dan membuang sangat banyak energi positif untuk mendatangi tempat pemeriksaan itu bersama abdi dan juga kakak perempuannya, saya terkejut ternyata dia ( Si jahanam ) tukang periksa itu adalah seorang member Tiens. yang mengejutkan lagi adalah abdi dan kakak nya juga ikut dalam komunitas marketing sialan yang pernah saya jumpai di muka bumi dan mengutuk dalam hati betapa bodohnya kenapa saya berada di tempat macam ini dan tentu juga tidak lupa saya mengutuk kawan yang telah mengajak saya kemari.

Jauh sebelum beberapa malam sialan itu, tepatnya sekitar tahun 2007 ketika saya masih duduk di bangku SMA kelas 3. saya sudah sering mendengar Tiensi atau yang sekarang berevolusi menjadi Tiens tersebut. dulu sekali ketika kawan kawan sering mengikuti festival band di sampit, tempat andalan untuk nongkrong kami di pemancar TVRI, karena ada seorang kawan yang bernama kadar tinggal disitu. kami sering mabuk dan muntah bahkan bersenang senang di halaman pemancar TVRI, terkadang mereka yang saking mabuknya berani memanjat ketinggian pemancar tersebut juga ada, kecuali saya, karena pada dasarnya saya takut dengan ketinggian dan entah sering sekali paranoid melihat kawan kawan yang bersenang senang diatas sana.

Rasanya, kalo tidak salah kadar lah yang mengenalkan seorang kawan yang katanya pembisnis muda sukses dan ingin berbagi tips omongkosongnya kepada kami, itu menurut saya. waktu itu, kami tidak tau menahu masalah Tiensi ini apa an, jadi ketika kami di prospek dan tentu di jejali dalam lubuk hati kami yang paling dalam berupa keinginan keinginan membahagiakan orang tua, sekolah dengan biaya sendiri, kendaraan hasil sendiri, dan banyak lagi impian yang nampaknya, memang kami adalah sasaran yang paling empuk untuk di bodohi.

Tak bisa di hindari ketika setelah di prospek berupa pencucian otak secara massal, kawan kawan macam terhipnotis oleh bisnis Tiensi sialan ini. mungkin memang menjanjikan, tapi saya tidak peduli dengan mereka dan segala omong kosong produk yang di konsumsi secara teratur dengan tujuan kesehatan sedangkan kami mirisnya, sangat jauh dari kehidupan sehat wa alfiat. bukan tidak mau merubah keadaan, tapi pertanyaan saya dulu adalah, untuk apa harus ikut program ini ? bisnis yang mengekor dan memberikan keuntungan kepada mereka yang berada di level atas, sendangkan untuk yang baru ? oh, jelas harus menikmati setiap proses pembusukan lebih dulu baru bisa ber-haha hihi meliat jaringan di bawah kita menggurita bodohnya untuk menyerahkan rupiah dan membeli produk secara konsisten, begitu seterusnya. dan bagi mereka yang tidak ikut ? oh sudah pasti sangat rugi ketika di perkumpulan kawanan semua membicarakan bisnis ini tentulah kamu akan menjadi orang yang sangat tertinggal. tapi maaf kawan, walaupun kalian tidak lagi mau berkawan denganku karena bukan salah satu anggota, aku masih bisa membeli minuman sendiri dan mabuk sendiri.
teringat juga, ketika eko memprospek orang tuanya dan saya sudah tidak mau mengikuti trend ini terlalu jauh lagi. dan jika kalian ingin tau bagaimana akhirnya ? sudah jelas bisnis ini seperti tenggelam jauh sekali di dasar laut, dan jika ada yang mengingatnya mungkin akan malu dan mengutuk, sialan !
Ketika tahun tahun berikutnya berlalu, tepatnya bulan maret yang seharusnya saya harus fokus untuk bekerja dan jelas harus menyelesaikan proyek sialan berupa pandawa rebel yang sudah kami sepakati bersama musti tetap di jalankan walaupun banyak halangannya. saya agak sedih ketika seorang kawan berkata dia di daftarkan saudaranya mengikuti bisnis MLM ala Tiens, dan dia juga beralasan karena menganggur dan mencari kesibukan. padahal, jika ingin ku beri tau, sodaraku juga bergelut dalam bisnis MLM ini dan sering mengajakku bergabung untuk mendapat penghasilan sampingan yang lumayan, tapi entah mengapa bukan karena aku mempunyai pekerjaan, tapi ini adalah salah satu sikap kita untuk menolak dan menyetujui tawaran mereka. lain halnya jika kita memang ingin sekali bergabung di situ, itu merupakan keputusan dan hak individu.

dan taukah kawan, jika kalian sudah tidak mempunyai semangat lagi untuk melanjutkan pandawa rebel, aku tidak merasa keberatan, silahkan ambil keputusan. aku bekerja sendiri, dan kalian dengan jalan hidup kalian sendiri, sungguh ini tidak akan mempengaruhi perkawanan kita. cheers !

Jumat, 27 Februari 2015

Untuk Pertemanan Bag. 1

Jumat malam, ini tepatnya pukul 23.15, saya kembali harus menulis dan melanjutkan edisi pandawa rebel yang terus menerus menagih janjinya untuk segera di lunasi. agak malam memang, karena beberapa jam lalu saya mesti mengantar pacar ke sebuah mall di sampit untuk bertemu beberapa kawan lama nya yang pernah sama sama merantau di jakarta dulu, sewaktu dia kuliah. Dan mengenai hal ini, saya harus meminta maaf kepada abdi yang terus menerus mengingatkan saya untuk segera menambah beberapa tulisan kami yang memang kurang beberapa halaman untuk zine edisi kedua ini.

Jauh beberapa tahun yang lalu, mungkin sekitar 5 – 6 tahun, saya kembali teringat alm. Lutfi, kawan kami. dia adalah pemain bola di sekolah sewaktu SMA. sungguh luar biasa jika seandainya dia masih bisa hidup sampai sekarang, mungkin karir nya dalam dunia persepak bolaan akan melesat jauh sangat tinggi, atau kemungkinan terburuk dia hanya akan menjadi pemain futsal yang seminggu dua kali mengucurkan keringat di sela sela kesibukan ini itu di siang hari, seperti halnya manusia pada umumnya. Tidak tau kenapa bisa teringat kawan lama yang sudah meninggal lebih dulu, mungkin ini salah satu faktor umur saya yang semakin hari semakin menua, semakin lembut menghadapi hidup, semacam iwan fals yang sekarang membintangi sebuah iklan kopi dan merasa nikmat ketika meminumnya.

Dulu, kami memang agak kurang akrab berteman, tapi ada beberapa waktu yang bersamaan ketika dia bermain ke pandawa, kerumah saya yang merupakan markas anak anak untuk memulai malam yang panjang. sebuah kebanggaan yang dalam menikmatinya dirasa penuh suka cita. malam yang selalu kami tunggu ketika seharian mendapat hukuman di sekolah, dan mebusuk dalam pelajaran yang tidak kami sukai. dan saat dia mulai mencampur alkohol 75% kedalam botol aqua yang berisi air dicampur dengan kuku bima, dengan sangat hati hati sekali agar tidak ketahuan orang tua saya, saat itulah yang mengingatkan saya bahwa hari ini tidak ada kawan yang mempunyai semangat sebesar dia. jauh sekali dia berjalan kaki menuju rumah saya hanya untuk berbagi nikmatnya mabuk bersama, walau dengan cara sembunyi sembunyi. hingga akhirnya kami keluar pagar dan menggila pada malam itu, tertawa dan terbahak menceritakan kebodohan kawan kawan yang selalu bolos tiap kepala sekolah memulai pelajaran. dan sudah tentu kami bernyanyi di tengah jalan sehingga sering kali pak syarif, guru sosiologi kami keluar rumah untuk memastikan kami baik baik saja, karena rumahnya memang tepat di depan rumah saya. dan beberapa tahun berselang, setelah kami keluar dari busuk nya masa masa SMA, dan memulai kehidupan selanjutnya. kabar duka dari orang tua saya sangat mengejutkan, karena katanya dia ( Lutfi ) meninggal dan besok pagi di kuburkan. dia meninggal tepat di lapangan sepak bola, dan pada saat pertandingan di istirahatkan beberapa menit. kabarnya, ketika itu dia sedang asik menimang bolanya, kemudian jatuh tersungkur.

Jam sekarang menunjukkan pukul, 00.07. sekilas wajah kawan saya yang sudah almarhum itu terbayang jelas seperti tersenyum ketika saya menuliskan tentang dirinya. kemudian terdapat buku yang belum saya baca dengan judul Freedom from the self yang terletak di samping komputer, seolah olah mengingatkan kami, bahwa ini lah puncak yang kita cari selama ini wahai kawan !



Senin, 30 Juni 2014

Puisi untuk ayah

Sayup-sayup suara sorga memanggil ditengah kesunyian dan kenyenyakan tidur malam itu.
aku menyesal menjadi pemalas,karena memilih tidur dan menyimpan sorga.
Sorga itu dari ayahku, pesan yg ku ingat ketika duka.
Sorga yg telah lama direbutnya dari telapak kaki ibuku yg sudah meninggal...
Dia, ayahku yang terkadang kami tidak sependapat dan tidak saling tegur karena merasa benar sendiri.
Dia, ayahku yang menjadi lesu karena aku membuat masalah.
Dia yang dulu adalah si tulang punggung keluarga dan sekarang harus belajar menjadi ibu.
Dia ayahku yang sekarang susah payah untuk menentukan bagaimana nasib keluarganya.
Dia ayahku yang membuatku sedih karena pilihannya.
Dan dia adalah ayahku yang membuatku bertanya kepada tuhan, kenapa harus Ibu yang meninggal ?

Puasa tahun 2014

Hari ini hari senin, yaitu tanggal 30 juni 2014. yang mana adalah hari kedua puasa pada bulan ramadhan ini. Aku seperti biasa bekerja dan pulang lebih awal karena muncul kebijakan selama bulan puasa jam kerja di kurangi. Oke, fine... aku tak masalah, mungkin hanya sebagian orang yang bermasalah atas dirinya. itu juga di karenakan dia anggap sebagai masalah.
waktu menunjukan mau pukul 5 sore, kemudian aku bergegas untuk mandi dan rencana nya akan mencari menu berbuka puasa. iya, aku hanya untuk membeli sekedar minuman sari kedelai dan martabak. kiranya, dengan apa yang kubeli tadi, aku akan membatalkan puasaku di hari yang mau senja ini.
Aku sadar, selain mereka ramai mau bersiap menuju masjid karena magrib, isya, kemudian tarawih. aku cuma bingung dengan diriku yang rela menjauh sejenak dari keramaian ala pilpres yang sebentar lagi diselenggarakan. Aku memilih berbuka di tempat sunyi dengan membawa makanan yang sudah kubeli tadi. seolah olah, hanya aku yang merasa bulan puasa ini kosong, tanpa makna.
Padahal kata mereka, bulan puasa adalah bulan suci umat islam. yang mana di bulan ini kita musti berbondong bondong melakukan perbuatan baik. ya, aku juga tau tentang ini. Dan kalian kuberitahu, kalian hanya bahagia karena sekeluarga bisa berkumpul dan merasakan manisnya bulan suci ini. bagaimana dengan diriku yang merasa kosong karena keluargaku sudah terpecah belah ? dengan mudah kalian berucap, "dewasalah nak". 
Sebenarnya, sudah sejak 10 tahun lalu aku meramalkan kekosongan hidup seperti yang kurasakan saat ini, dan ternyata memang benar terjadi. dulu, ketika tahun 2004, ibuku meninggal dunia karena kanker yang di deritanya. tepat pada saat aku kelas 2 Mts. saat itu, kuliat almarhum ibuku yang dikerumuni banyak orang ketika dibacakan surah yasin, aku sempat berpikir. aku memikirkan bagaimana mungkin aku hidup tanpa dia ? sedangkan sudah pasti, kedua orang sodaraku akan jauh karena mereka sudah memiliki kehidupannya sendiri. Rasa takutku semakin menjadi ketika meliat muka adikku yang saat itu kira kira masih berumur 3 tahun. hatiku menangis saat itu, ya.. walaupun aku masih bisa menyembunyikan ketakutan itu melalui senyum kepada para pelayat. begitu dekat ternyata umur mama dengan kematian pada saat itu, sebelum aku dewasa dan masuk di SMK yang dulu kunyatakan keinginanku untuk bersekolah kepada beliau.
Perlukah kuceritakan kepada kalian semua, bahwa sebelum mama ku meninggal dan dibulan bulan puasa seperti ini. aku selalu pergi tarawih ke mushola dekat rumah ?. sekarang tak perlu lagi ku katakan karena akan menjadi Ria. Perlukah ku katakan pada kalian ? bahwa menu buka puasa kami selalu Agar-agar yang dibikin ber-asaskan kekeluargaan dengan menggunakan talam sebagai wadahnya, dan selalu ku rindukan enaknya sampai dekit ini ?. Tidak perlu, karena akan membuat aku sedih.
Perlukah ku katakan, saat ini adik perempuan ku di tinggalkan dirumah sendirian oleh ayahku yang memilih menemani istri barunya ? tidak perlu lagi, karena itu hanya akan membuat kalian kasihan.
Perlukah aku menuliskan semua cerita duka ku di Blog ini agar terbaca oleh kalian, dan berharap kalian tahu bahwa hanya aku yang merasa sebagai manusia tersedih abad ini ? Tidak perlu karena itu berlebihan.
Perlukah ku lanjutkan lagi cerita tentang diriku yang malam ini sedang sedih ?, akurasa tidak perlu, dan untuk apa ?

Kamis, 29 Mei 2014

Omong kosong Hari ini

Hari ini, hari libur. setelah lama tidak bermaksud untuk menulis sesuatu yang tidak penting, aku memulainya dengan minum kopi dan naik ke loteng atas sekedar mengamati suasana di sekitar tempat aku tinggal.
aku agak curiga dengan tetangga sebelah, karena di loteng atas ada terdapat sesajen entah untuk siapa. oh ya, baru ingat dia adalah seorang tiong hoa, dan kurasa memang sudah biasa begitu.
Dan si abdi, teman sejawatku, sedang pergi ke palangkaraya katanya, nonton konser metal. Gorsgasm, nama band nya. tapi kurasa dia lebih berkepentingan untuk menemui pacarnya yang disana itu, daripada sekedar menonton konser.
dan juga mengenai teman ku, dia adalah nani, turut berduka atas meninggalnya ibu kesayangannya. kurasa dia lebih tabah daripada aku yang dulu kehilangan Ibuku.
oh, aku lupa... setelah hampir sekian bulan tidak beradu tangan dengan keyboard, rasanya canggung dan tidak ada tema yang tepat untuk menuliskan sesuatu. atau mungkin kita bicarakan pemilu ? ah, bosan euy...
karena saya tidak merasa baik ketika memilih seseorang yang bakal memimpin negeri ini. apa juga yang saya harapkan kepada negeri ini ketika dapat seorang pemimpin yang baik, benar, dan jujur ?
Mungkin kalian tidak sependapat dengan saya, tapi itulah adalah Hak saya. tidak benar jika saya adalah seorang yang golput untuk ini. saya memilih untuk tidak percaya terhadap dewan perwakilan dengan konsep demokrasi, dengan kemenangan melalui suara terbanyak. suara terbanyak yang diambil dalam kotak suara, kotak suara yang sekarang terbuat dari kardus, dengan biaya yang katanya miliaran, dengan bermilyar milyar duit rakyat untuk melaksakan pesta demokrasi itu. sedangkan diantaranya, masyarakat kami ada yang susah, ada yang makan cuma dengan nasi, ada yang nyari ikan nya dengan cara mancing dulu. itu semua adalah situasi rakyat indonesia yang sangat demokrasi ini. itu juga hanya sebagian kecil masyarakat yang merasa susah. ada lagi yang lebih susah dari itu.
Sedangkan, mereka sibuk membuat Blusukan kesana kemari, pencitraan lewat media masa. dan membayar para artis papan atas untuk memenangkan pemilihan umum nanti.
Saya sebenarnya sudah bosan dengan ini, harus beberapa kali menuliskan tentang pemilu dengan kecurangan-kecurangan nya seperti kejadian di Seruyan dulu, yang pernah saya tuliskan di Zine kami yang makin lama, makin usang. makin mempercepat proses pembusukannya.
Dan saya agak kecewa dengan kawanan yang sekarang jalan sendiri sendiri, tidak lagi membahas hal hal busuk seperti anti kapitalis. apa karena kami makin tua ? dan mengatakan ini sebagai bentuk Kompromi ?
Apa sekarang bentuk pemberontakan Si abdi dengan hanya kesana kemari mendatangi Gig Metal ? Apa sekarang si Abud lebih nyaman berfose ala Homo di danau ? apa sekarang si Jordi lebih nyaman merekam hasil nyanyian nya untuk para kimcil ? dan apakah saya sendiri lebih nyaman di balik monitor banal, yang hak miliknya adalah perusahaan yang kami sebut Korporasi ? Entahlah... semua itu omong kosong !
Dan ketika tadi malam saya menyelesaikan Novel dilan karya Pidi Baiq, saya terperangah meliat tulisan yang di kutip beliau. kira-kira begini :

"BARANG SIAPA YANG INGIN DAMAI, BERSIAPLAH UNTUK PERANG" (Ronald Reagan ).
Dia adalah presiden amerika ke-40.

Dan mungkin, bagi saya itu benar adanya. dengan cara yang berbeda beda.

Jumat, 20 September 2013

Pelamar Kerja di Rumah Tuhan

Rabu pagi saya bergegas dan bersiap untuk suatu hal yang saya anggap penting, yaitu Melamar Kerja. kenapa sih saya musti ingin melamar kerja ? apakah ada hubungannya dengan mencari kerja ? ohh, jelas mempunyai hubungan keduanya, namun yang berbeda adalah saya masih memiliki pekerjaan. mereka yang mencari kerja biasanya sih lantaran kehilangan pekerjaaan, tapi saya tidak. saya masih memiliki pekerjaaan, barangkali saya cuman bosan untuk terlalu lama bekerja di sini. saya melaju melalui butiran debu yang menyerang di balik lajunya truk sawit yang masya allah ngebutnya... namun itu semua tidak menggoyahkan jiwa saya sebagai pelamar kerja yang handal di tikungan. sebelumnya kawan saya, si Abdi sudah mengetahui perihal kedatangan saya ke sampit, jadi bisa saja dia ingin kabur ketika saya datang, dikarenakan saya adalah orang yang sering menginap dirumahnya dan terkadang saya suka minta traktir makan sama dia. tapi tidak ternyata, pas saya sampai disana, sesaat sebelumnya saya yang sempat istirahat di tempat orang tua di daerah baamang baru kemudian saya menjumpai dia di rumahnya. dan kamipun bertemu hingga melakukan survey di beberapa tempat yang kira nya bisa kami antar surat lamaran, kemudian ketemu juga. hingga pada besoknya kami antar kemudian kami bersama-sama melakukan Tes dan Interview di salah satu perusahaan. ah semoga saja saya di terima, kalo si abdi kata nya sudah di terima. sukurlah kalo begitu....
Sepulang dari perusahaan tempat kami di interview, kamipun pulang masing-masing menuju rumah karena hari sudah magrib. dan saya juga mengatakan kepada abdi, nanti kiranya sekitar pukul tujuh saya akan kembali kerumahnya untuk sekedar main main. 
Ketika beberapa jam kemudian saya sudah berada di rumahnya dan sempat main gitar, namun kemudian si abdi mengajak saya kerumah Mardian, kawan kami yang sukses di bagian persopiran. ya, dia adalah seorang sopir yang saya tidak pernah ikut dia ketika naik mobil. sesampai disana kami sekedar basa basi sambil berbicara ngarol ngidul. dari bicara tentang pekerjaan hingga bicara tentang ke Esaan Tuhan. Kerap kami terlibat percakapan serius masalah agama, dan tentu saya ketika berdebat adalah sebagai orang yang sok menghargai agama orang menurut dia, dan terlalu memikirkan nasib orang lain yang berbeda keyakinan. Bukan maksud saya untuk memikirkan nasib mereka dengan tidak memikirkan nasib saya sendiri atas agama yang saya pegang. tetapi saya lebih bersikap Universal ketika terlibat dalam sebuah percakapan yang mengatasnamakan agama. oke ketika kita hanya untuk membahas agama yang kita anut sendiri, tetapi apabila muncul omongan tentang perbedaan-perbedaan agama orang lain saya justeru mendebat mereka. saya hanya tidak suka ketika meraka bersikap arogan dan terlalu menyudutkan agama orang lain, seolah olah bahwa agama mereka adalah agama yang paling benar, dengan konsep panutan yang jelas hampir menyerupai orang orang yang tidak beragama. tapi jelas ungkapan itu bukan saya tujukan kepada mardian kawan saya, karena dia sekarang jauh lebih baik ketimbang kami berdua. walaupun ketika saya bicara tentang Al kafirun - ayat 6 yang mengatakan "bagimu agamamu, bagiku agamaku" dia sempat bingung dan mengaku belum pernah mendengar. Tapi tidak masalah, setidaknya dia sudah menjalankan Rukun Islam yang saya sendiri ngakak tertawa ketika kawan saya yang lain ikut membahas bernama zanu mengatakan Rukun Islam itu cuma Dua, yaitu Syahadat dan sholat. karena cuma dua hal itu yang baru bisa dia laksanakan.
Saya tidak pernah meragukan konsep ketuhanan dan agama yang saya anut. karena pada dasarnya manusia adalah mereka yang mencari hakikat kebenaran dengan apa yang mereka yakini sebagai pegangan, dan tentu manusia adalah mereka yang berfilsafat.
Tidak mungkin tuhan menciptakan manusia dengan sebegitu mudahnya untuk turun kebumi hanya untuk menyembah dia, toh malaikatpun jauh lebih baik daripada manusia itu sendiri. Setidaknya, malam itu tidak akan pernah ada perbincangan mengenai Tuhan ketika saya memutuskan untuk tidak melamar kerja di sampit -

"jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun temurun, kata orang, firman kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah memikirkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena berpikir bahwa orang itu guru kami. Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, hal-hal tersebut tidak bermanfaat, tercela, menyebabkan kerugian dan penderitaan, maka kalian harus meninggalkannya" - Budha

Jumat, 13 September 2013

Belum ada judul karena tidak ada rencana

September masih di guyur hujan dan terkadang sedikit menyebalkan, karena ketika saya menjemur pakaian tiba tiba hujan deras. huuhh, dasar berkah... iya katanya hujan itu berkah, berkah bagi yang jarang merasakan betapa menyebalkannya musim hujan. Tapi sekali berkah tetap berkah, toh hujannya masih air juga, coba kalo peluru, nanti kita akan seperti polisi yang tertembak beberapa waktu lalu. ini bukan masalah hujan atau musim tembak menembak yang menakutkan itu, tapi ini masalah kontroversi hati seperti yang di ucapkan Vicky calon suami nya si goyang itik. tapi karena si Vicky orang yang menyebalkan dan terlalu intelek bagi si goyang itik, maka dengan ini dia bisa memutuskan hubungan dengannya. tapi ini juga bukan masalah mereka berdua dan itu juga bukan urusan saya. tapi ini adalah masalah keadaaan saya yang jika dibilang menyedihkan itu akan seperti terdengar lebay.
Saya disini hampir mirip tawanan yang sulit bergerak karena sekarang seperti ada semacam pembatas yang menyulitkan langkah saya. mungkin terdengar lebay sih, tapi jujur ketika saya harus mengatakan inilah masa yang super duper bosan dan sangat membosankan bagi saya, tapi kata kata itu sudah seperti hal yang basi, karena sudah terlampau sering saya tulisankan di akun twiter pribadi saya, follow @EdyIrwant
yaa setidaknya untuk rencana kedepan nya saya masih tidak ada rencana sama sekali. apakah masa depan saya suram ? ohh, jelas tidak...saya masih punya tanah warisan yang belum di bagikan oleh orang tua, dan saya juga masih memiliki vespa yang keren dan berwarna pink. karena saya sadar, ini bukan suatu masalah apabila saya tidak mempermasalahkan kebosanan saya ketika posisi saya berada di akhir akhir kejayaan. Bukannya saya tidak memiliki rencana masa depan sama sekali, tapi ada satu dua rencana yang musti akan saya lakukan selepas dari sini, rencana yang harus di ambil ketika kita sudah berada disuatu posisi yang genting, yaitu keputusan final... toh jangan jangan kita tidak pernah akan berada di masa depan, karena yang akan kita lakukan adalah hari besok harus lebih baik dari hari kemarin.
Dan masih, saya musti suka mendengarkan karya The doors dan beberapa lagu milik Vampire weekend untuk membunuh kebosanan, walau terkadang diselingi beberapa lagu Public enemy dan The roots untuk menaikan mood.
Mudah-mudahan saya masih bisa berjalan bersama waktu, dan masih senang ketika ingin..