Sabtu, 19 Agustus 2017

Ustadz Firanda Andirja, M.A ditanya: Apakah organisasi Islam itu bid’ah?

Ketika Ustadz Firanda Andirja, M.A ditanya: Apakah organisasi Islam itu bid’ah? 
 
Ust. Firanda Andirja, M.A menjawab: 
 
Organisasi Islam itu tidak bid’ah. Organisasi itu perkara dunia. Selama itu tujuannya untuk akhirat, maka tidak terjadi masalah. Ada organisasi besar, ada organisasi kecil, seperti pondok. Pondok itu organisasi kecil, sama saja. Ada mudirnya (pimpinan pondoknya) ada pengasuh pondoknya, ada anak buahnya. Ini organisasi kecil-kecilan meskipun tidak terdaftar. 
 
Namun tatkala organisasi tersebut dipakai sebagai ukuran wala dan bara’, kalau bukan dari kelompok saya, saya tidak mau ngaji, kalau bukan dari kelompok saya, saya tidak mau menikahi. Ini masalah kalau begini. Dia berwala dan berbara’ bukan di atas Al Qur’an dan Sunnah, tetapi di atas organisasinya. Kalau begini, maka ini organisasi yang bid’ah.
 
Kita tahu seperti di India ada saudara-saudara kita namanya Organisasi Ahlul Hadits, dan itu ada pemimpinnya, ada anak buahnya dan banyak teman-teman saya bermanhaj ahlussunnah, bermanhaj salaf dari kelompok ini. Tapi mereka tidak menjadikan itu sebagai ukuran al wala wal bara’ (cinta dan benci gara-gara kelompok –ini tidak boleh–). 
 
Kalau sudah cinta dan benci berdasarkan kelompok, misalnya, saya tidak mau menikah kalau bukan dari kelompok saya, maka ini adalah organisasi hizbiyyah. Wallahu a’lam. 
 
Silahkan rujuk Vidio Ust. Firanda Andirja, M.A “Apakah Organisasi Islam Itu Bid’ah”. 
 
 
 

Mengenal Salafi Jihadi

Berikut saya postingkan tulisan mengenai lahinya gerakan yang sering di sebut "Salafi Jihadi". Apa dan bagaimana simak tulisan di bawah ini...

Seiring meredupnya cahaya Islam di muka bumi, keadilan dan kebenaran seolah semakin sulit dicari. Ketika pemerintahan Islam kehilangan taringnya karena dihempaskan musuh-musuh Islam, pada saat itu juga kaum muslimin tertindas dimana-mana. Hal itu ditandai dengan runtuhnya supremasi Islam di Turki pada  tanggal 3 Maret 1924.

Penindasan demi penindasan terhadap kaum muslimin dan cita-cita untuk mengembalikan kejayaan Islam, mendorong munculnya gerakan kebangkitan Islam (Ash-Shahwah Al-Islamiyah). Hal ini ditandai dengan munculnya gelombang perubahan dan kebangkitan yang menggeliat sejak pertengahan abad ke-18. Sebagian tokoh kebangkitan Islam berusaha memperbarui dan melakukan reformasi kekuasaan Khilafah Utsmani.
Mereka saling bekerja sama dengan unsur-unsur yang baik dalam negara tersebut, termasuk dengan khalifahnya, Sultan Abdul Hamid. Sayangnya, sebelum hal tersebut terealisasi dengan sempurna, kekhalifahan Utsmani telah mendahului runtuh, wilayah kekuasaannya pun dipecah belah oleh negara-negara aliansi Salibis.

Gerakan Ash-Shahwah Islamiyah sebagai Cikal Bakal Salafi Jihadi

Cita-cita mulia untuk mengembalikan kejayaan Islam telah terpatri di dada kaum muslimin. Maka dari itu, mulailah bermunculan kelompok-kelompok yang berjuang demi mengembalikan kejayaan Islam. Diantara mereka semisal Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Aliran Islahi Tarbawi, Jamaah Tabligh dan Dakwah, gerakan salafi dan ahli hadits.

Seiring perkembangan dan fase-fase tahapan yang terjadi—karena pergantian zaman, strategi dan kondisi musuh yang semakin kompleks—munculah istilah kelompok Salafi Jihadi”. Hal ini juga diikuti kabar fitnah dari media mainstream terhadap diri mereka. Tidak lain, tujuannya untuk mendelegitimasi gerakan mereka.
Imbas dari kabar-kabar ini menjadikan masyarakat kabur akan hakekat dan tujuan sebenarnya dari kelompok ini. Tudingan-tudingan miring yang tidak berdasar pun bermunculan dan membuat pola pikir rakyat menjadi rancu.

Khalayak umum dibuat bingung dengan berita-berita ngawur yang disebarkan. Penyematan kata “teroris” pun tak luput dari kelompok ini. Sehingga terkesan jika disebut kata “salafi jihadi”, maka yang tergambar dalam benak mereka adalah kelompok yang kejam, teroris dan suka berbuat onar.

Sebenarnya, Syaikh Abu Mus’ab As-Suri telah begitu jelas menuliskan seluk beluk kelompok ini dalam bukunya “Ad-Da’wah Al-Muqawamah Al-Islamiyah Al-‘Alamiyah”. Kelompok ini adalah percampuran antara pemikiran haraki jihad ala Sayyid Qutub, seraya mengadopsi aqidah salafi dan manhaj dakwah wahabi.

Awal mula lahir dari daratan Saudi Arabia pada masa pemerintahan Raja Faishal. Saudi Arabia sendiri menjadi tempat hijrah alami bagi para tokoh IM yang diasingkan dari Mesir era Gamal Abdul Nasser, di mana Raja Faishal berseteru dengannya. Banyak dai dan sesepuh IM di Suriah juga melarikan diri ke Saudi Arabia dikarenakan benturan dengan para penganut Partai Ba’ats sejak pertengahan tahun 60-an. Mayoritas guru tersebut mengajar di universitas-universitas Islam di Saudi Arabia.

Inilah tiga periode terpenting dari usia ash-shahwah al-islamiyah (1960-1990), yaitu terjadinya asimilasi pemikiran antara haraki aliran IM –terutama aliran Sayyid Qutub, dengan pemikiran aqidah dan khasanah fikih dakwah salafi serta wahabi. Walhasil, kombinasi pemikiran ini kembali lagi ke Mesir, Suriah, Jazirah Arab dan bumi Islam lainnya.

Identitas Pemikiran Salafi Jihadi

Manhaj IM yang berkarakter politis dan tarbiyah, serta aliran ala Sayyid Qutub yang berkarakter mufashalah dan tamayuz sesuai prinsip hakimiyah, keduanya ini telah membentuk aspek siyasah syar’iyyah dan harakiyah pada manhaj salafi jihadi.

Maka dari itu, manhaj salafi yang dikombinasikan dengan dakwah wahabi serta produk fiqihnya,  membentuk landasan fiqih dan aqidah yang berhasil banyak menjawab banyak permasalahan siyasah syar’iyyah. Hal inilah yang diketengahkan oleh kelompok salafi jihadi dalam menyeru untuk berkonfrontasi dengan rezim-rezim jahiliyah yang berkuasa di negeri Islam.

Contohnya soal alasan syar’i tentang kekafiran para penguasa yang berhukum dengan selain hukum Islam, berwala’ pada musuh Islam, serta sekian banyak hukum syar’i turunannya; seperti hukum memberontak penguasa, menjatuhkan legalitas mereka dan lain-lain.

Ketika mayoritas kelompok ash-shahwah al-Islamiyah menempuh manhaj demokrasi dan munculnya polemik yang beraneka ragam, aliran salafi jihadi ini dituntut untuk menjawab serta memberikan solusi yang tepat. Maka tampillah fiqih Imam Ibnu Taimiyah, manhaj salafi dan khazanah  Wahabi yang menjadi pegangan dan pedoman utama kelompok salafi jihadi untuk bergumul di medan polemik tersebut.

Dengan rincian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa infrastruktur pemikiran salafi jihadi yaitu, dasar-dasar pemikiran Ikhwanul Muslimin + manhaj haraki Sayyid Qutub + fiqih siyasah syar’iyah Imam Ibnu Taimiyah dan salafi + khazanah fiqih aqidah dakwah Wahabi = Manhaj haraki siyasah syar’iyyah salafi jihadi.




Sumber : Kiblat

Sabtu, 12 Agustus 2017

Free Thinker

Banyak yg ketakutan ketika mendengar istilah ini. Bagaimana tidak, istilah yang dinisbat kan kepada pemikir bebas di Eropa ini menjangkiti tubuh muslimin di dunia permaya'an sehingga mengkhawatirkan beberapa kelompok.

Tahun 2010 ketika saya kali pertama mengkhatam kan novel fenomenal Achdiat k. Mihardja, yaitu Atheis. Yang beriringan pula dengan gencar nya saya berbedat di FP Komunitas Atheis Indonesia. Sering sekali saya temukan anak anak free thinker ini ikut nimbrung. Mungkin, referensi mengenai apa dan bagaimana free thinker itu akan banyak berseliweran di google, bung. Cari sendiri!

Belakangan ini muncul istilah Free thinker dikalangan jama'ah facebookiyah. Menariknya, istilah ini di populerkan oleh kalangan Islamis sendiri.

Sebut saja Yunus Abdullah, lelaki yg terang terangan mengaku sebagai Wali ini mengklaim bahwa dirinya lah ketua Free thinker Syar'i di jagad perfacebookan. Kita iyakan saja, karena beliau lah yang pertama kali membuat grup Whatsapp lintas Manhaj sebagai bentuk ke-free thingkeran nya itu.

Apa dan bagaimana Free thinker syar'i itu, lagi lagi saya sarankan Add akun Yunus Abdullah, bung. Link Cari sendiri!

*Sebagai catatan dari sudut pandang saya sendiri:

Bahwa Free thinker syar'i adalah sekedar ungkapan dan kemudian menjadi bentuk perlawanan terhadap kejumudan ketika "membicarakan" persoalan umat Islam di era kontemporer.

Free thingker pun tidak bisa di pukul rata bahwa mereka semua sama. Setidaknya ada dua klasifikasi didalam Free thinker, yaitu ekstrem dan moderat.

Jika ditinjau dari sudut pandang penuntut ilmu, maka haruslah seseorang memilih menjadi Free thinker syar'i yg moderat. Dengan alasan menambah wawasan ke Islaman, dan tentu hal ini pun perlu di barengi dengan menuntut Ilmu dgn Ustadz yang Manhaj nya kokoh (bila mau) agar tidak salah dalam bersikap dan tidak goncang dlm menghadapi keras nya status di Facebook.

Kaidah menjadi free thinker itu simple punya -> "Kebenaran harus di terima walau pun keluar dari mulut musuh mu".

Hal ini berdasarkan hadist dari Abu Hurairah yg pernah di suruh Rasulullah menjaga zakat Ramadhan (zakat fitrah), yang kemudian syaitan mengajarkan nya membaca ayat kursi.

Jadi begitulah yg selama ini yg saya terapkan. Saya banyak berkawan dgn berbagai macam manusia di dunia maya. Saya senang. Lintas Manhaj, madzhab hingga Agama pun ada. No problem kok. Apalagi sekedar like dan komen di kolom status A atau B, Ahhh... Itu biasa bagi saya.


Sekian.


Pembagian Tauhid Menjadi Tiga (3)

Secara teori memang tidak ada pembagian, tetapi secara praktek pembagian seperti ini memang ada.

Sama halnya seperti pembagian hukum fiqih pada masa Rasulullah secara praktek hanya 3 saja, lalu kemudian Ulama membaginya menjadi 5, seperti Mubah, makruh, haram, Sunnah, dan wajib.

Setelah di teliti oleh ulama, ternyata perkara Hukum bisa di klasifikasi kan menjadi 5. Dan hal ini sama halnya dengan pembagian Tauhid.

Bahwa penjelasan nya sudah ada, tetapi metode pembagian nya baru, dlm rangka untuk memudahkan dlm mempelajari hal tersebut.

Lalu, sama juga dalam bahasa Arab, "kalimat" terbagi menjadi 3, Isim, fi'il, dan huruf. Di jaman nabi hal ini tidak ada, namun ketiga nya ada di dalam pembicaraan bahas Arab. Atau sama juga dengan pembagian seperti Nahwu dan shorof. Ini semua hanyalah metode dalam mempelajari bahasa Arab.

Hal ini jelas berbeda dengan Bid'ah yg muncul dan Rasulullah tidak pernah mengerjakan nya. Dan tentu hakikat nya pun juga tidak ada.

Jika kaidah seperti ini saja mereka (Hizbiyah) bisa gagal faham, lantas bagaimana mau mendirikan khilaf - ah. Wah jgn jgn belum bangun tidur...


*Tulisan di atas adalah jawaban dari Ustadz firanda andirja yang kemudian saya rubah sedikit gaya bahasanya.


Hanif TV, Televisi Dakwah Sunnah Kalimantan Tengah

Hanif tv adalah satu channel dakwah yang ada youtube. Dan juga Satu satunya televisi dakwah yang ada di kota kami, Palangkaraya.

Terhitung pendatang baru di dalam dunia persosmed'an dalam mengembangkan dakwah nya. Di modali semangat dakwah, beberapa pemuda seperti Yogy Dwi Nanto pun direkrut untuk menunjukan kebolehan nya dalam mengedit video dll.

Kami sebagai orang desa, tepatnya di kota Sampit yang sampai hari ini pemuda nya dikuasai pemikiran arus liberal sangat senang dan selalu support atas hadir nya Channel dakwah ini, walaupun hanya bisa di nikmati via youtube, Facebook, dan Instagram.

Baru baru ini tim Hanif TV belajar streaming via Facebook setelah beberapa hari yang lalu di ajarin oleh anak anak Dakwah sunnah dot.com Banjarmasin. Dan kedepannya insya allah, hanif.tv bisa dinikmati melalui steaming juga biar kekinian.

Maka dari itu, kami mengajak rekan, dan kawan sepergaulan untuk membantu tim ini dgn menginfaqkan pulsa 10.000 saja !

Untuk apa ? Yaitu, untuk...

Live streaming Hanif TV dan operasional lainnya
Caranya ?

Bisa transfer pulsa
Bisa isi ulang pulsa
Ke nomor :
081351757771
Palangkaraya
Katingan
Sampit
Kapuas
Buntok

Semoga dicatat menjadi amal kebaikan antum.
Jazaakallahu khoiron.

subscribe dan temukan kami di :
bit.ly/haniftv
facebook.com/hanif.tv
instagram.com/hanif.tv
whatsapp 081351757771.

Wow, Pengelola Website Bisa Bikin Pesantren

Di sebuah dusun bernama dusun Warak, desa Girisekar, panggang, Kabupaten Gunung Kidul - jogjakarta. Ada sebuah ponpes Darus sholihin yang di pimpin oleh Ustadz Muhammad Abduh tuasikal.

Beliau merupakan pengelola situs Rumaysho.com yang kerap mengupdate artikel seputar Islam. Mulai dari akidah, tafsir Qur'an, hingga artikel hukum islam lainnya seperti Sholat zakat dll.

Rumaysho merupakan nama dari anak pertama beliau. Berawal dari Website yg sejak 2008 lalu sudah berkiprah inilah, lahir sebuah pesantren yang berdiri hingga saat ini. Masya allah...

Saya rasa, sangat boleh mengambil rujukan dari artikel yg ada di Rumaysho.com, berhubung si pengelola aktif berbagi ilmu bukan hanya di Medsos saja, tapi di dunia nyata pun beliau aktif, terbukti berdiri nya ponpes yg beliau asuh.

Dan rekomendasi juga untuk kawan kawan para penuntut ilmu via online, agar mengikuti pengajian rutin kitab Tauhid hingga bahasa Arab di facebook Rumayshotv, atau subscribe channel youtube nya juga ada.
Salut dgn dakwah Ustadz Muhammad Abduh tuasikal, berawal dari Website/sosmed hingga berdiri pondok pesantren.


Sekian.

Kamis, 01 Juni 2017

Pacaran = Berzinah

Dulu, jauh sebelum mengenal Sunnah. Saya salah satu dari sekian ribu pemuda liberal yang mempraktikkan tradisi pacaran.

Kemudian bosan dengan gaya hidup seperti itu, mungkin karena umur sob.

Lalu pas kenal dgn dunia Pengajian Alhamdulillah besok nya saya bilang ke pacar "Beb bulan depan kita nikah, kalo gak mau mending kita putus". Hatta mendengar kata-kata putus pacar saya langsung bilang ke ortunya sambil nangis-nangis minta di kawinkan.

Alhasil, kami menikah hingga sekarang sudah 2 kali bulan Ramadhan kami lalui.

Saya bukan salafy kokoh yang merasa diri ini tegar di atas Sunnah.

Setidaknya cerita di atas bisa menginspirasi kawan kawan yang belum hijrah dan masih bermaksiat dgn Pacaran.

Cinta dari sudut pandang orang normal seperti kami adalah Untuk menyalurkan Naluri manusiawi (Red : hubungan intim) dan berkasih sayang dengan lawan jenis.

Makanya di dalam Islam ada Istilah pernikahan. Jika yang pacaran mengatasnamakan Cinta dan kasih sayang, Maka sudah bisa di pastikan mereka sedang berzinah.


Selesai.